Masalah-masalah bidang pertahanan dan keamanan
mencakup beberapa aspek yaitu masalah-masalah aktual dan perkembangan
lingkungan strategis, aspek kebijakan, dan aspek penataan hubungan
institusional dan kewenangannya.
1. Aspek lingkungan strategis
a. Lingkungan
Internal
Perkembangan domestik masih
menunjukkan beberapa ketidakpastian baik di bidang sosial, ekonomi, maupun
politik. Pemulihan ekonomi diperkirakan masih menghadapi beberapa kendala
antara lain karena lemahnya iklim investasi, pertumbuhan ekspor yang lamban,
dan ketidakpastian hukum dan politik. Jumlah pengangguran dan mereka yang hidup
di bawah garis kemiskinan masih sangat besar. Masalah-masalah ini tidak hanya
mengurangi kinerja ekonomi, tetapi juga akan melahirkan ketidakstabilan di
kalangan masyarakat akar rumput. Kenaikan BBM yang mencapai lebih dari 100
persen makin memperburuk keadaan di atas.
Dalam beberapa tahun terakhir ini
kemampuan negara untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan masyarakat juga
berkurang. Gejala ini tampaknya akan terus berlangsung. Kelemahan ekonomi dan
keuangan negara adalah salah satu penyebab utama dari keadaan ini. Selain itu,
pelembagaan politik untuk membangun sistem politik yang demokratis juga masih
akan menghadapi berbagai persoalan. Hubungan lembaga-lembaga negara, terutama
antara eksekutif dan legislatif tampaknya belum akan mampu melahirkan sistem checks
and balances yang stabil. Negara juga akan dihadapkan pada
tuntutan-tuntutan baru daerah dalam proses desentralisasi di Indonesia.
Ketimpangan ekonomi dan masalah-masalah distribusi sumber-sumber ekonomi antara
pusat dan daerah akan memperkuat tuntutan-tuntutan seperti itu. Proses ini akan
memakan waktu yang lama.
Masalah-masalah di atas
melahirkan tantangan terhadap proses reformasi politik di Indonesia. Hakekatnya
adalah bahwa politik, baik pelaku maupun proses pelembagaannya, masih
menghadapi krisis legitimasi, tidak hanya dalam konteks hubungan antara negara
(state) dan masyarakat (society), melainkan juga dalam hubungan
antara sipil dan militer (civil-military relations, CMR). Hubungan
sipil-militer yang menundukkan institusi militer di bawah otoritas politik
sebagai syarat pembangunan sistem politik yang demokratis masih sering dipahami
secara salah. Bermainnya kepentingan-kepentingan kekuasaan dan ekonomi, baik
kelompok politik sipil dan militer, menjadikan reformasi hubungan sipil-militer
masih akan memakan waktu yang lama. Masalahnya menjadi makin rumit karena para
pihak yang berkepentingan (stakeholders) dalam masalah hubungan
sipil-militer tidak menjadikan masalah ini sebagai agenda politik
nasional.
Persoalan-persoalan di atas,
yaitu menurunnya kemampuan negara, krisis ekonomi, ketidakadilan,
ketidakpastian transisi politik, dan masalah hubungan sipil-militer,
menunjukkan bahwa Indonesia akan menghadapi masalah-masalah keamanan dalam
negeri yang serius.
Ancaman kedua yang akan dihadapi
oleh Indonesia adalah konflik komunal dan gerakan separatis. Konflik komunal
lahir tidak hanya karena perbedaan nilai dan budaya, tetapi lebih mendasar
adalah karena entitas/masyarakat tidak mampu menemukan bentuk interaksi yang
lebih tinggi yang mengatasi ikatan komunal mereka. Masalah ini makin runyam
karena masyarakat tidak merasakan kehadiran negara dan bentuk-bentuk ikatan
politik dan ekonomi ke mana mereka memberikan loyalitas. Proses politik selama
krisis ini tidak mampu mentransformasi konflik-konflik komunal ke dalam bentuk
interaksi sosial politik yang terlembaga.
Banyak faktor menjelaskan
munculnya separatisme yaitu sejarah, ketimpangan ekonomi dan ketidakadilan
politik, dan perasaan dimarginalkan oleh sistem politik dan ekonomi. Masalah
ini akan makin rumit karena globalisasi dan keterbukaan menjadikan mereka yang
terlibat mempunyai ruang lebih bebas untuk bergerak ke luar batas nasional.
Sumber-sumber ekonomi dan finansial menjadi lebih luas dengan adanya kemampuan
untuk membentuk jaringan–jaringan internasional yang memberikan mereka akses
persenjataan dan dukungan eksternal, baik potensi dukungan resmi, maupun
melalui kegiatan-kegiatan ilegal misalnya penyelendupan senjata, obat
terlarang, dan kegiatan terorisme.
Bentuk ancaman ketiga yang akan
dihadapi oleh Indonesia adalah kerusuhan sosial. Ini akan lahir ketika
masyarakat menemui jalan buntu untuk mengatasi krisis, terutama ekonomi dan
sosial. Dalam situasi krisis, di mana negara tidak mampu memenuhi kebutuhan
masyarakat, dan bersamaan dengan itu lembaga dan proses politik kehilangan
legitimasi, potensi kerusuhan sosial merupakan potensi ancaman yang dihadapi
oleh Indonesia. Potensi kerusuhan sosial juga dapat memanfaatkan kerawanan
hubungan-hubungan ikatan primordial, terutama agama, yang sangat mudah
dimanipulasi. Akhir-akhir ini rasa aman dalam hubungan keagamaan mulai terusik.
Ancaman lain yang juga akan
dihadapi adalah terorisme. Dalam kurun waktu 3-4 tahun terjadi serangan bom
teroris dalam skala besar. Terorisme yang berkembang di Indonesia mempunyai
akar kuat di dalam negeri Indonesia baik karena sejarah, ideologi-politik,
lemahnya penegakkan hukum, dan tidak terpenuhinya kepentingan-kepentingan
ekonomi dan politik. Keberhasilan jaringan terorisme internasional masuk ke
Indonesia lebih banyak ditentukan oleh masalah-masalah domestik di atas. Faktor
lain adalah krisis ekonomi dan politik yang memberikan ruang bagi kelompok
teroris untuk memberikan jalan alternatif dan mengeksploitasi ketidakpuasan
masyarakat terhadap negara. Selain itu, ketidakmampuan negara untuk melakukan
kontrol terhadap beberapa aspek yang dengan mudah bisa dimanfaatkan oleh
jaringan terorisme, misalnya pengawasan terhadap arus manusia, wilayah maritim
dan udara yang sangat terbuka. Yang tidak kalah penting adalah korupnya
birokrasi dan aparat keamanan yang memudahkan jaringan teroris untuk menembus
institusi-institusi dan perangkat-perangkat keamanan negara dan masyarakat.
b. Lingkungan
Eksternal
Sementara itu aspek eksternal
menunjukkan kecil kemungkinan terjadi perang konvensional antar negara di
kawasan Asia Tenggara dan Asia Pasifik yang akan mengancam keamanan dan
kepentingan Indonesia. Kemungkinan terjadinya invasi militer ke Indonesia juga
sangat kecil. Secara ekonomi dan politik, perang dan invasi militer adalah
pilihan yang mahal baik dilihat dari politik domestik maupun dalam hubungan
antar bangsa yang akan makin saling tergantung (interdependensi) di mana
kepentingan nasional hanya bisa dipenuhi melalui kerjasama internasional. Dalam
situasi seperti itu negara dan bangsa akan dihadapkan pada pilihan yang
terbatas dalam menentukan kebijakan nasional mereka yang mempersempit
kemungkinan lahirnya kebijakan luar negeri dan pertahanan yang agresif.
Meskipun demikian, akan lahir
tantangan-tantangan baru yang harus diperhatikan oleh Indonesia. Pertama,
Amerika Serikat (AS) masih akan mendominasi ekonomi dan politik dunia. Posisi
AS dalam sistem internasional dewasa ini belum bisa ditandingi oleh kekuatan
lain, bahkan oleh Uni Eropa, apalagi oleh kekuatan-kekuatan regional seperti
Brasil, Argentina, Afrika Selatan, India, ASEAN, Jepang, dan China. Perilaku
kekuatan-kekuatan ini belum mampu membentuk sistem internasional baru yang
menantang supremasi AS.
Dalam posisi seperti itu,
perubahan kebijakan dan perilaku Amerika Serikat dipastikan akan mempengaruhi
kepentingan Indonesia. Terlebih untuk kawasan Asia Tenggara dan Asia Pasifik
yang merupakan kawasan sangat strategis bagi Amerika Serikat. Kehadiran Amerika
Serikat di kawasan sekitar Indonesia ini akan tetap menjadi kondisi obyektif
dalam perumusan kebijakan keamanan dan pertahanan Indonesia. Masalah-masalah
baru internasional, seperti terorisme, keamanan jalur perdagangan, dan
masalah-masalah hak azasi manusia akan mewarnai perilaku Amerika Serikat
terhadap Indonesia yang sekarang dan dalam kurun waktu beberapa tahun ke depan
diperkirakan belum mampu sepenuhnya mengontrol perkembangan-perkembangan
internasional dan domestik.
Kedua, harus juga dicermati bahwa
perkembangan-perkembangan ke depan di kawasan Asia Pasifik mengindikasikan
bahwa konflik akan lebih banyak berdimensi maritim. Atau, aspek maritime akan
membuat koflik menjadi makin kompleks. Penyelundupan manusia, penyebaran aksi
terorisme, kejahatan internasional yang lain akan banyak memanfaatkan dimensi
laut, terutama di negara-negara yang kemampuan patroli dan pengawasan wilayah
lautnya sangat lemah seperti Indonesia. Bahkan ada kaitan yang erat antara
terorisme, separatisme, dan kejahatan trans-nasional yang lain dengan
memanfaatkan atau mengeksploitasi jalur-jalur laut di wilayah perairan
Indonesia, sehingga mereka bisa bergerak dengan bebas untuk memasuki Indonesia.
Ini menunjukkan bahwa keamanan laut tidak hanya strategis dalam hubungan dan
politik internasional, melainkan juga strategis bagi keamanan domestik.
Kepentingan negara-negara di
kawasan juga akan lebih banyak lahir dari lingkungan maritim, mulai dari
perlindungan terhadap jalur komunikasi laut (SLOC, Sea Lanes of
Communication) dan jalur perdagangan laut (SLOT, Sea Lanes of Trade)
yang vital bagi perdagangan internasional, jalur pemasok energi, dan ekonomi.
Selain itu dimensi maritim juga akan memberikan pilihan-pilihan strategis bagi
negara-negara di kawasan ini untuk memproyeksikan kemampuan mereka ke luar
batas nasional. Hal ini dilakukan misalnya dengan peningkatan kemampuan patroli
atas wilayah laut baik wilayah jurisdiksi maupun wilayah ZEE dan jalur-jalur
perdagangan, maupun dengan meningkatkan kekuatan pertahanan dengan prioritas
angkatan laut dan udara. Dalam suatu kawasan yang berdimensi maritim sangat
kuat, maka hanya negara yang membangun kekuatan maritim yang akan banyak
mengendalikan percaturan politik dan strategis di kawasan ini. Dengan demikian,
meskipun upaya untuk memperkuat kekuatan maritim oleh negara-negara Asia
Pasifik belum sampai pada tahap persaingan untuk meraih supremasi laut,
kecenderungan ke depan tampak jelas bahwa keamanan maritim akan menjadi agenda
dan sekaligus masalah yang membentuk kebijakan keamanan dan pertahanan
negara-negara di kawasan ini.
Ketiga, dalam sistem internasional yang
didominasi oleh Amerika Serikat, kuatnya globalisasi yang membuka kesempatan
untuk bersaing, dan kecenderungan pengembangan kekuatan maritim inilah
munculnya Cina sebagai kekuatan regional dan global harus dilihat dengan
perhitungan yang matang. Artinya, Cina sedang dan akan hadir sebagai tantangan
dan sekaligus peluang. Indonesia akan dihadapkan pada dinamika hubungan
Cina-Amerika Serikat yang akan ditandai oleh kuatnya upaya Cina untuk
menyejajarkan diri dalam kelompok negara besar di kawasan terutama Jepang dan
India, mampu bersaing dengan Amerika Serikat, mampu membentuk agenda keamanan
dan politik di kawasan Asia Pasifik, dan mampu memenuhi kepentingan-kepentingan
ekonomi nasionalnya yang makin mengandalkan pada keterbukaan ekonomi
internasional dan globalisasi. Hampir dapat dipastikan bahwa untuk
tujuan-tujuan tersebut Cina akan membuat kebijakan-kebijakan keamanan yang
memungkinkannya mempunyai banyak pilihan-pilihan strategis. Oleh karena itu
dapat dipahami Cina makin asertif dalam kebijakan luar negerinya yang ditopang
dengan pengembangan kekuatan angkatan laut dan udara. Di bidang ekonomi, Cina
makin membuka diri dan sekaligus mengikatkan diri dalam kerjasama ekonomi
internasional. Cina yang akan datang adalah Cina yang baru yang lebih dinamis,
terbuka, dan asertif yang akan hadir di kawasan sekitar Indonesia.
Sebaliknya, Cina yang gagal
sebagai negara yang mengalami transformasi besar baik dalam politik domestik
dan internasional, juga merupakan skenario yang tidak dapat dikesampingkan.
Bahaya disintegrasi dan kesenjangan pusat-daerah, lahirnya gap besar antara
kelas menengah baru akibat kemajuan ekonomi dengan masyarakat pedesaan, dan
tuntutan demokratisasi yang makin besar akan menjadi tes bagi kelangsungan
sistem politik komunis Cina. Tuntutan ini akan menjadi makin kuat karena
membiarkan berjalannya sistem ekonomi dan sistem politik yang berbeda justru
menciptakan bom waktu perubahan drastis dan tak terkendali. Jika ini terjadi,
dipastikan akan terjadi gelombang manusia dan ketidakstabilan kawasan. Meskipun
skenario ini kecil kemungkinan terjadi, resiko besar yang harus dihadapi oleh
Cina dan negara-negara di kawasan menyebabkan perlu kehati-hatian dalam
berhubungan dengan Cina, menekankan perlunya transparansi kebijakan, dan jika
perlu kompromi-kompromi tertentu.
Keempat, melemahkan batas fisik nasional
membuka ruang berkembangnya jaringan kejahatan trans-nasional. Para pelakunya
dapat bergerak relatif bebas terutama di kawasan yang sangat terbuka. Di
kawasan Asia Tenggara, hampir semua kejahatan trans-nasional berhasil
mengeksploitasi keterbukaan dimensi maritim di kawasan, mulai dari
penyelundupan manusia, perdagangan obat terlarang, terorisme, dan penyeludupan
senjata ringan. Kerugian ekonomi dan politik-keamanan yang ditimbulkan oleh kejahatan
trans-nasional sangat besar. Kejahatan trans-nasional akan melahirkan
konflik-konflik baru tidak hanya antara negara, melainkan juga antara negara
dengan aktor bukan-negara (non-state actors) yang melampaui batas-batas
kedaulatan nasional. Melihat perkembangan-perkembangan saat ini, kecenderungan
ke depan menunjukkan bahwa kejahatan trans-nasional akan menjadi lebih besar
karena di dalamnya terdapat peluang yang lebih besar bagi para pelaku untuk
memenuhi kepentingan-kepentingan mereka melalui beragam interaksi dan saluran.
Ini sangat fundamental karena dalam globalisasi negara bukan lagi satu-satunya
aktor atau entitas politik yang dapat menuntut loyalitas tunggal dan memenuhi
kepentingan warganya. Pelaku bukan negara (non-state actors) mempunyai
banyak pilihan yang tidak dapat dipenuhi hanya oleh negara. Akibatnya,
kejahatan trans-nasional menjadi kecenderungan kuat saat ini dan di masa depan.
Perkembangan internasional ke
depan akan diwarnai oleh kesalingtergantungan (interdependensi) yang makin kuat.
Perkembangan ini membuat hubungan internasional menjadi makin sensitif bahkan
melahirkan persepsi kerapuhan (vulnerability) terhadap
perubahan-perubahan eksternal. Akibatnya, masalah-masalah dalam negeri tidak
dapat diisolasi dari masalah-masalah internasional. Batas spasial-geografis
menjadi kurang relevan dalam menghadapi interdependensi dan keterbukaan.
2.
Aspek Kebijakan Pertahanan dan Keamanan
Dalam situasi seperti itu,
pemerintah belum belum merumuskan kebijakan umum pertahanan negara. Kebijakan umum
pertahanan memberi arah tentang apa yang hendak dicapai pada masa pemerintahan
sekarang ini dan bagaimana mencapainya. Kebijakan umum pertahanan memberikan
arah tentang apa yang akan dihadapi oleh Indonesia dalam perubahan perkembangan
internasional dan internal. Di sini kebijakan umum pertahanan negara berisi penilaian
tentang potensi ancaman (threat assessment) baik eksternal maupun
internal atas dasar analisa lingkungan strategis dan karakter geografis
Indonesia sebagai negara kepulauan. Kebijakan umum pertahanan negara juga
menjelaskan penilaian tentang kapabilitas pertahanan yang dimiliki dan harus
dikembangkan oleh Indonesia dengan melihat perkembangan kapabilitas pertahanan
negara-negara lain, terutama di kawasan Asia Tenggara dan Asia Pasifik.
Akhirnya, kebijakan umum pertahanan juga berisi strategi pertahanan tentang
bagaimana menghadapi perkembangan-perkembangan potensi ancaman dan lingkungan
strategis yang kemudian diturunkan dalam pengembangan strategi dan kekuatan
pertahanan Indonesia. Sampai saat ini kebijakan umum pertahanan negara belum
dirumuskan secara formal. Tidak hanya hal ini merupakan keharusan strategis dan
politik yang akan menjadi pedoman perumusan kebijakan pertahanan melalui
Departemen Pertahanan, melainkan juga merupakan keharusan legal seperti yang
ditentukan oleh Undang-undang No. 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara.
Dalam merumuskan Kebijakan Umum
Pertahanan Negara Presiden dibantu oleh suatu dewan keamanan nasional yang di
dalam Undang-Undang No. 3/2002 disebut Dewan Pertahanan Nasional. Ke
depan nama dewan ini harus diganti menjadi Dewan Keamanan Nasional. Beberapa
orang mengatakan untuk menjalankan fungsi dewan ini bisa digunakan Wantannas
yang dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 101 Tahun 1999. Atau, paling
tidak orang dapat mempertanyakan mengapa harus ada Dewan Pertahanan Nasional
sementara dalam waktu yang sama ada kabinet yang di dalamnya terdapat beberapa
menteri yang membidangi masalah pertahanan dan keamanan.
DPN berbeda dari Wantannas atau
kabinet. Suatu dewan keamanan nasional bertugas menganalisa isu-isu ancaman,
dari mana ancaman datang, dan bagaimana menghadapi ancaman tersebut. DPN
memberikan nasehat kepada Presiden dalam pembuatan kebijakan umum pertahanan
negara, menyusun kebijakan tentang pengerahan kompoen pertahanan, dan menelaah
resiko dari kebijakan yang ditetapkan. Tetapi ada fungsi yang lebih
fundamental. Ketua dewan keamanan nasional adalah juga penasehat presiden dalam
bidang keamanan (national security adviser) yang sehari-harinya
berkomunikasi dengan Presiden. Dalam situasi krisis keberadaan DPN sangat
diperlukan, terutama ketika pemerintah menghadapi situasi darurat atau mendesak
yang segera harus ditangani dengan segala resikonya, termasuk ketika harus
menggunakan instrumen kekerasan dan memberlakukan keadaan darurat pada berbagai
tingkatan. Sebagai tangan Presiden, tanggung jawab politik dari DPN ada di
pundak Presiden. Struktur dan keanggotaan DPN di luar keanggotaan tetap seperti
yang dicantumkan dalam undang-undang tergantung dari Presiden sesuai dengan
kepentingan dan prioritas masalah keamanan dalam kurun waktu tertentu. Anehnya,
sampai sekarang dewan keamanan nasional belum dibentuk.
Untuk menjadi operasional
kebijakan umum pertahanan negara harus diterjemahkan ke dalam beberapa
kebijakan yang lebih kongkrit yang disebut juga kebijakan penyelenggaraan
pertahanan yang menjadi tanggungjawab dari Departemen Pertahanan yang dipimpin
oleh Menteri Pertahanan. Esensi dari kebijakan penyelenggaraan
pertahanan adalah pembuatan policy dan pengelolaan (management).
Penjabarannya meliputi perumusan kebijakan strategi pertahanan, kebijakan
pengembangan kekuatan pertahanan (termasuk di dalamnya pengadaan atau procurement,
pembinaan potensi pertahanan), pengembangan teknologi dan industri pertahanan,
kebijakan alokasi anggaran pertahanan, dan kebijakan umum pengerahan dan
penggunaan kekuatan TNI. Kebijakan-kebijakan penjabaran dari kebijakan umum
pertahanan negara ini jelas menunjukkan bahwa Menteri Pertahan tidak hanya
berwenang merumuskan kebijakan pertahanan, melainkan juga kontrol terhadap TNI,
termasuk kontrol terhadap pembinaan kekuatan pertahanan apakah sesuai dengan
kebijakan pembangunan kekuatan yang dirumuskan oleh Departemen Pertahanan
sesuai dengan kebijakan pertahanan umum. Salah satu alat kontrol yang penting
adalah kontrol terhadap anggaran TNI yang dikelola oleh Departemen Pertahanan.
Semua kewenangan ini dan pertanggungjawaban politiknya tidak dapat berikan
kepada TNI karena mereka bukan institusi atau aktor yang memegang akuntabilitas
politik.
Masalah kebijakan lain dalam satu
tahun ini berkaitan dengan keterbatasan sumber-sumber nasional untuk
kepentingan pertahanan. Ini akan membawa implikasi pada dua hal yaitu
pengembangan sistem pertahanan dan keamanan yang memberi ruang untuk pengerahan
sumber-sumber nasional untuk kepentingan pertahanan. Sishankamrata harus
diartikan dalam konteks ini. Implikasi kedua adalah pilihan strategi
pertahanan. Sishankamrata masih dipahami sebagai nilai dan norma yang
sebanarnya tidaklah unik Indonesia. Yang lebih penting adalah menerjemahkan
nilai tersebut ke dalam sistem operasional untuk melibatkan rakyat dalam upaya
bela negara serta pengerahan potensi nasional untuk kepentingan pertahanan
negara. Disinilah perlu ada regulasi politik dan kebijakan dalam bentuk undang-undang
bela negara, wajib militer, komponen cadangan dan undang mobilisasi dan
demobilisasi. Semua langkah ini didasarkan atas pertimbangan bahwa selalu ada
gap antara tujuan yang hendak diraih dengan ketersediaan sumber-sumber untuk
mencapai tujuan tersebut, tetapi juga untuk memenuhi prinsip politik berupa hak
dan kewajiban rakyat dalam upaya pertahanan negara.
Apa yang dilakukan oleh
Departemen Pertahanan dengan inisiatif mengajukan suatu rancangan undang-undang
pertahanan dan keamanan negara adalah salah upaya untuk menterjemahkan prinsip
hankamrata tersebut ke dalam sistem yang operasional. Langkah ini menegaskan
dua hal yaitu pertama untuk menegaskan kewenangan otoritas politik dalam
mengelola pertahanan negara, termasuk dalam pengerahan potensi untuk
kepentingan pertahanan. Kedua, melindungi hak rakyat sebagai non-combatant
sesuai dengan prinsip-prinsip Konvensi Jenewa 1949 dan Pro tokolnya.
Implikasi kedua dari keterbatasan
sumber nasional untuk pertahanan adalah perlunya pengembangan strategi pertahanan.
Strategi adalah seni untuk mencapai tujuan dengan sumber-sumber yang terbatas.
Karena itu strategi pertahanan harus efisien dan efektif. Pilihan strategi
pertahanan harus segera dilakukan dengan memperhatikan aspek penangkalan,
pertahanan, dan perlawanan yang harus dilihat sebagai variable kontinyu. Dengan
demikian perlu pengembangan semua kekuatan matra secara proporsional. Dalam
konteks ini, Indonesia harus menerjemahkan posisi geostrategis dan geopolitik
Indonesia sebagai negara kepulauan ke dalam strategi pertahanan yang memenuhi
aspek penangkalan, pertahanan dan perlawanan. Jadi, initinya adalah strategi
pertahanan apa yang harus dikembangkan oleh Indonesia yang secara efisien dan
efektif dapat melindungi Indonesia dengan memperhatikan ketiga aspek pertahanan
tersebut? Tetapi yang pasti secara empirik adalah bahwa meskipun benar
Indonesia masih menghadapi ancaman keamanan internal, ancaman internal tersebut
tidak dapat dijadikan dasar untuk mengembangkan kekuatan pertahanan yang
kredibel.
Dalam satu tahun ini, upaya
memenuhi kebutuhan alutsista masih menghadapi banyak kesulitan. Meskipun
embargo senjata oleh Amerika Serikat sudah dicabut, kendala finansial masih
menyulitkan pengadaan alutsista (alat utama sistem persenjataan). Pilihan
pengadaan barang melalui kredit ekspor masih menjadi alternatif terakhir yang
terpaksa dilakukan. Tentunya hal ini disertai dengan beberapa resiko mahalnya
produk. Keterlibatan banyak pihak dalam pengadaan barang/jasa militer juga
menjadi beban negara karena membengkaknya harga yang harus dibayar. Oleh karena
itu apa yang dilakukan oleh Departemen Pertahanan melalui Keputusan Menteri
Pertahanan No: Kep/01/M/I/2005 dan Kep/15/M/II/2005 tentang pengadaan barang
patut disambut positif. Menurut Keputusan Menteri Pertahanan tersebut pengadaan
barang harus ditandatangani oleh pengguna barang/jasa, penyedia barang/jasa
(pabrikan dan distributor) dan Panitian Pengadaan dan Tim Interdep yang
dipimpin oleh Menteri Pertahanan. Dengan demikian KepMen ini ditujukan untuk
mencegah penyalahgunaan kekuasaan dalam pengadaan barang/jasa militer.
Hal lain yaitu pengambilalihan
bisnis militer, seperti dinyatakan dalam Pasal 76 Undang-Undang No. 34 tentang
Tentara Nasional Indonesia. Langkah ini banyak mengandung aspek teknis dan
hukum semata-mata karena beragamnya bisnis militer yang mencakup yayasan,
kooperasi, penyerataan saham di sektor komersial, dan komersialisasi asset-aset
militer. Karena itu langkah identifikasi dan inventarisasi yang harus disertai
dengan audit harus segera dilakukan. Pengambilalihan bisnis militer didasarkan
atas asumsi bahwa domain expertise militer adalah dalam bidang pertahanan untuk
menghadapi ancaman bersenjata. Keterlibatan militer dalam bisnis telah
melemahkan profesionalisme militer dan menciptakan loyalitas atas dasar
kepentingan ekonomi. Hal ini bisa merusak social capital dan chain of
command dalam tubuh militer. Tetapi negara memang harus memenuhi
kesejahteraan dan kebutuhan prajurit. Hal ini bukan kompensasi dari pengambilalihan,
melainkan karena kewajiban negara karena militer telah mengorbankan dua hal
yaitu kesiapan untuk mengorbankan nyawa karena tugas dan karena sebagian hak
dasarnya sebagai makluk politik telah dipotong. Karena itu perlu ada komitmen
politik dari pemerintah untuk meningkatkan anggaran pertahanan.
3.
Aspek institusional dan hubungan kewenangan
Aspek institusional dan hubungan
kewenangan adalah aspek yang sensitif karena mengandung masalah politik dan
hubungan kekuasaan. Meskipun secara legal telah diatur kewenangan politik dan
operasional, ketentuan legal ini belum diimplementasikan. Hubungan antara
Departemen Pertahanan dan Mabes masih tumpang tindih. Posisi panglima langsung
dibawah Presiden mempunyai implikasi politis dan psikologis dalam hubungannya
dengan Departemen Pertahanan. Terlebih Departemen Pertahanan masih menghadapi
kelemahan sumber daya manusia terutama terbatasnya kemampuan sipil di dalam
Departemen Pertahanan.
Hal yang sama terjadi dalam kasus
polisi yang tampak menjadi institusi relatif independen. Prinsip bahwa semua
instrumen keamanan dan pertahanan harus di bawah suatu otoritas politik yang
mengemban pertanggungjawaban politik atas fungsi instrument tersebut sampai
saat ini belum terwujud. Oleh karena itu ke depan pemerintah harus merumuskan
kembali hubungan-hubungan institusional-kewenangan antara pengemban
akuntablitas politik dan akuntabilitas operasional sehingga prinsip-prinsip demokrasi
dalam fungsi hankam dapat diwujudkan. Menyatunya pertanggungjawaban politik dan
operasional sangat mudah mengarah pada berbagai pelanggaran, termasuk
pelanggaran dengan menggunakan alat kekerasan.
Tetapi, hal itu bukan berarti
bahwa Panglima TNI dan Kapolri tidak mempunyai saluran untuk memberi sumbangan
pemikiran mereka dalam perumusan kebijakan bidang pertahanan dan keamanan.
Telah disediakan mekanisme untuk itu yaitu melalui dewan keamanan nasional yang
dalam UU 3/2002 tentang Pertahanan Negara disebut Dewan Pertahanan Nasional.
Anehnya sampai sekarang dewan ini belum dibentuk. Beberapa orang mengatakan
untuk menjalankan fungsi dewan ini bisa digunakan Wantannas. Atau,
mempertanyakan mengapa harus ada Dewan Pertahanan Nasional sementara dalam
waktu yang sama ada kabinet yang di dalamnya terdapat beberapa menteri yang
membidangi pertahanan dan keamanan.
DPN berbeda dari semua itu dan
lebih dari semua itu. Suatu dewan keamanan nasional bertugas menganalisa isu-isu
ancaman, dari mana ancaman datang, dan bagaimana menghadapi ancaman tersebut.
DPN memberikan nasehat kepada Presiden dalam pembuatan kebijakan umum
pertahanan negara, menyusun kebijakan tentang pengerahan kompoen pertahanan,
dan menelaah resiko dari kebijakan yang ditetapkan. Tetapi ada fungsi yang
lebih fundamental. Ketua dewan keamanan nasional adalah juga penasehat presiden
dalam bidang keamanan yang sehari-harinya berkomunikasi dengan Presiden. Dalam
situasi krisis keberadaan DPN sangat diperlukan, terutama ketika pemerintah
menghadapi situasi darurat atau mendesak yang segera harus ditangani dengan
segala resikonya, termasuk ketika harus menggunakan instrumen kekerasan dan
memberlakukan keadaan darurat. Sampai sekarang dewan keamanan nasional belum
dibentuk.
Hubungan antara TNI dan Polri
dalam menangani masalah keamanan juga masih bermasalah. Prinsip bahwa TNI
mempunyai idle capacity yang bisa digunakan untuk melakukan operasi
militer selain perang tidak berarti cek kosong bahwa tugas perbantuan terhadap
polisi bisa dilakukan secara otomatis. Adalah pemerintah yang mempunyai
kewenangan untuk memutuskan pengerahan TNI untuk tugas perbantuan kepada
polisi. Sampai sekarang belum ada undang-undang tentang ini yang mengatur
tentang kapan pengerahan TNI dapat dilakukan, siapa yang memutuskan, bentuk
pertanggungjawaban, bentuk keterlibatan TNI dan aturan pelibatan (rules of
engagement) dan konsekuensi anggaran dari perbantuan tersebut. Kompleksitas
ini tidak cukup secara politik hanya diatur dalam suatu peraturan pemerintah
atau bahkan suatu MOU.
Wynn Hotel Las Vegas - Mapyro
BalasHapusWynn Hotel Las Vegas. A map 천안 출장안마 showing Wynn 사천 출장안마 Las Vegas and 경산 출장안마 Encore 제주도 출장안마 Beach Club, Las Vegas, Nevada. Wynn Hotel and Casino 강원도 출장안마 is located at 8.716 US